Formasi Koes
1. Brothers Of Koes (1958)
Koesdjono, Koestono, Koesnomo, Koesjono,
Koesroyo, Sophan Sophiaan (Artis Film)
dan Yan Mintaraga (Komikus)
2. Koes Brothers (1960-1962)
Koesdjono, Koestono, Koesnomo,
Koesjono, Koesroyo
3. Koes Bersaudara (1966-1967), 1977, 1986-1987
Koestono, Koesnomo, Koesjono, Koesroyo
4. Koes Plus (1968-1977)(1978-1987)
Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
5. Koes Plus (1993)
Abadi Susman, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
6. Koes Plus (1993) (Koes-Jab)
Abadi Susman, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Jeli Tobing
7. Koes Plus (1994)
Damon Tonny Koeswoyo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
8. Koes Plus (1995)
Najib, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
9. Koes Plus (1996)
Bambang Tondo, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
10. Koes Plus (1997)
Deddy Dores, Yon Koeswoyo, Yok Koeswoyo, Murry
11. Koes Plus (1998)
Andolin Sibuea, Yon Koeswoyo, Hans, Murry
12. Koes Plus (1999)
Andolin Sibuea, Yon Koeswoyo, Jack Kasbie, Murry
13. Koes Plus (ujung 2004)
Danang, Yon Koeswoyo, Sony, Seno
Koes Plus
Asal Jakarta, Indonesia
Tahun aktif 1970-an
Personil Tonny Koeswoyo
Yon Koeswoyo
Yok Koeswoyo
Nomo Koeswoyo
Murry
Koes Plus adalah sebuah grup musik Indonesia yang terkenal pada tahun 1970-an.
Lagu-lagu yang biasa mereka mainkan merupakan lagu yang sederhana baik dalam
syair, musik, maupun melodi. Ciri khasnya adalah perpaduan suara khas dari
vokalis mereka ( Yon dan Yok).
Bahkan banyak dibawakan oleh penyanyi lain dengan aransemen baru. Sebagai contoh
“Lex’s Trio” membuat album yang khusus menyanyikan ulang lagu-lagu Koes Plus, “Cintamu
T’lah” Berlalu yang dinyanyikan ulang oleh Chrisye, “Manis dan Sayang” yang
dibawakan oleh Kahitna. Sampai sekarang Koes Plus masih eksis walaupun tinggal 2
anggotanya (Yon dan Murry) yang aktif ditambah musisi lain dari luar.
Tetapi kebanyakan mereka hanya menyanyikan lagu-lagu lama. Dalam suatu acara
Mengenang Koes Plus di RCTI (sekitar tahun 1995), seseorang dari jajaran direksi
Remaco bernama Eugene Timothy (yang banyak merekam lagu Koes Plus) menyatakan
bahwa sampai sekarang tidak ada kelompok musik yang beat-beatnya seperti Koes
Plus. Mungkin dia ingin mengatakan bahwa lagu-lagu Koes Plus yang sederhana itu
iramanya gampang diikuti dan enak didengar.
Para penggemar Koes Plus harus menunggu-nunggu di depan TVRI (kala itu tidak ada
TV Swasta) begitu mengetahui bahwa Koes Plus bakal tampil di acara televisi.
[sunting] Perjalanan karir
Kelompok ini dibentuk pada tahun 1969, sebagai kelanjutan dari kelompok “Koes
Bersaudara”. Koes Bersaudara menjadi pelopor musik pop dan rock ‘n roll, bahkan
pernah dipenjara karena musiknya yang dianggap mewakili aliran politik kapitalis.
Di saat itu sedang garang-garangnya gerakan anti kapitalis di Indonesia.
Dari kelompok Koes Bersaudara ini lahir lagu-lagu yang sangat populer seperti “Bis
Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan masih banyak lagi.
Satu anggota Koes Bersaudara, Nomo Koeswoyo keluar dan digantikan Murry sebagai
drummer. Walaupun penggantian ini awalnya menimbulkan masalah dalam diri salah
satu personalnya yakni Yok yang keberatan dengan orang luar. Nama Bersaudara
seterusnya diganti dengan Plus, artinya plus orang luar: Murry.
Sebenarnya lagu-lagu Koes Bersaudara lebih bagus dari segi harmonisasi ( seperti
lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) dibanding lagu-lagu Koes
Plus. Saat itu Nomo, selain bermusik juga mempunya pekerjaan sampingan.
Sementara Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus
memilih. Akhirnya Koes Bersaudara harus berubah. Kelompok Koes Plus dimotori
oleh almarhum Tonny Koeswoyo (anggota tertua dari keluarga Koeswoyo). Koes Plus
dan Koes Bersaudara harus dicatat sebagai pelopor musik pop di Indonesia. Sulit
dibayangkan sejarah musik pop kita tanpa kehadiran Koes Bersaudara dan Koes Plus.
Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri adalah tradisi yang diciptakan Koes
Bersaudara. Kemudian tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial
volume 1, 2 dan seterusnya. Begitu dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat
simpati dari pecinta musik Indonesia. Piringan hitam album pertamanya sempat
ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan mentertawakan lagu “Kelelawar” yang
sebenarnya asyik itu.
Kemudian Murry sempat ngambek dan pergi ke Jember sambil membagi-bagikan
piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Dia bekerja di pabrik
gula sekalian main band bersama Gombloh lewat group Lemon Trees. Tonny yang
kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta. Baru setelah lagu “Kelelawar”
diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa waktu
kemudian lewat lagu-lagunya “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga
di Tepi Jalan” hingga lagu “Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia
waktu itu.
Dengan adanya tuntutan dari produser perusahaan rekaman maka group-group lain
yang “seangkatan” seperti Favourites, Panbers, Mercy’s, D’Lloyd menjadikan Koes
Plus sebagai “kiblat”, sehingga group-group ini selalu meniru apa yang dilakukan
Koes Plus, pembuatan album di luar pop Indonesia, seperti pop melayu dan pop
jawa menjadi trend group-group lain setelah Koes Plus mengawalinya.
“Seandainya kelompok ini lahir di Inggris atau AS bukan tidak mungkin akan
menggeser popularitas Beatles”[rujukan?]
“Lagu Nusantara I” (Volume 5), “Oh Kasihku” (Volume 6), “Mari-Mari” (Volume 7),
“Diana” dan “Kolam Susu” ( Volume
merajai musik pop waktu itu. Puncak
kejayaan Koes Plus terjadi ketika mereka mengeluarkan album Volume 9 dengan lagu
yang sangat terkenal “Muda-Mudi” (yang diciptakan Koeswoyo, bapak dari Tonny,
Yon dan Yok). Disusul lagu “Bujangan” dan “Kapan-Kapan” dari volume 10. Masih
berlanjut dengan lagu “Nusantara V” dari album Volume 11 dan “Cinta Buta” dari
album Volume 12.
Bersamaan dengan itu Koes Plus juga mengeluarkan album pop Jawa dengan lagu yang
dikenal dari tukang becak, ibu-ibu rumah tangga, hinga anak-anak muda, yaitu “Tul
Jaenak” dan “Ojo Nelongso”. Belum lagi lagu mereka yang berirama melayu seperti
“Mengapa”, “Cinta Mulia” dan lagu keroncongnya yang berjudul “Penyanyi Tua”.
Sayang sekali di setiap album yang mereka keluarkan tidak ada dokumentasi bulan
dan tahun, sehingga susah melacak album tertentu dikeluarkan tahun berapa.
Bahkan tidak ada juga kata-kata pengantar lainnya. Album mereka baru direkam
secara teratur mulai volume VIII setelah ditandatangani kontrak dengan Remaco.
Sebelumnya perusahaan yang merekam album-album mereka adalah “Dimita”.
Pada tahun 1972-1976 udara Indonesia benar-benar dipenuhi oleh lagu-lagu Koes
Plus. Baik radio atau orang pesta selalu mengumandangkan lagu Koes Plus.
Barangkali tidak ada orang-orang Indonesia yang waktu itu masih berusia remaja
yang tidak mengenal Koes Plus. Kapan Koes Plus mengeluarkan album baru selalu
ditunggu-tunggu pecinta Koes Plus dan masyarakat umum.
Tahun 1972 Koes Plus sempat menjadi band terbaik dalam Jambore Band di Senayan.
Semua peserta menyanyikan lagu Barat berbahasa Inggris. Hanya Koes Plus yang
berani tampil beda dengan menyanyikan lagu “Derita” dan “Manis dan Sayang”.
Dari informasi yang dikirim seorang penggemar Koes Plus, ternyata prestasi Koes
Plus memang luar biasa. Pada tahun 1974 Koes Plus mengeluarkan 22 album, yaitu
terdiri dari album lagu-lagu baru dan album-album “the best” termasuk album-album
instrumentalia, yang dibuat dari instrument asli Koes Plus atau rekaman “master”
yang kemudian diisi oleh permainan saxophone Albert Sumlang, seorang pemain dari
group the Mercy’s. Jadi rata-rata mereka mengeluarkan 2 album dalam satu bulan.
Tahun 1975 ada 6 album. Kemudian tahun 1976 mereka mengeluarkan 10 album.
Mungkin rekor ini pantas dicatat di dalam Guinness Book of Record. Dan hebatnya,
lagu-lagu mereka bukan lagu ‘asal jadi’, tetapi memang hampir semua enak
didengar. Bukti ini merupakan jawaban yang mujarab karena banyak yang mengkritik
lagu-lagu Koes Plus cuma mengandalkan “tiga jurus”: kunci C-F-G.
Karena banyak jasanya dalam pengembangan musik, masyarakat memberikan tanda
penghargaan terhadap prestasinya menjadi kelompok legendaris dengan diberikannya
tanda penghargaan melalui “Legend Basf Award, tahun 1992.Prestasi yang dimiliki
disamping masa pengabdiannya dibidang seni cukup lama, produk hasil ciptaan
lagunya pun juga memadai karena sejak tahun 1960 sampai sekarang berhasil
menciptakan 953 lagu yang terhimpun dalam 89 album. Prestasi hasil ciptaan lagu
untuk periode kelompok Koes Bersaudara sebanyak 203 lagu (dalam 17 album),sedang
untuk periode kelompok Koes Plus sebanyak 750 lagu dalam 72 album (Kompas,13
September 2001).
Salah satu anggota Koes Plus mengatakan bahwa mereka dibayar sangat mahal pada
masa jayanya. Yon mengungkapkan bahwa pada tahun 1975 mereka manggung di
Semarang. “Waktu itu pada tahun 1975, kami telah dibayar Rp 3 juta saat pentas
di Semarang,” kenang dia. Padahal, saat itu harga sebuah mobil Corona tahun 1975
kira-kira Rp 3,750 juta. Bila dikurs saat ini bayaran tersebut kurang lebih sama
dengan Rp 150 juta.(Suara Merdeka, 4 Mei 2001)
Waktu itu, Rp 3,5 juta sangat tinggi, mengingat mobil sedan baru Rp 3 juta. Jika
dikurskan dengan nilai uang sekarang, jumlah itu sama dengan Rp 200 juta sampai
Rp 300 juta. Jumlah penonton melimpah ruah tidak seperti sekarang, kenang Yon. (Suara
Merdeka, 23 Oktober 2001).
Setelah itu popularitas Koes Plus mulai redup. Mungkin karena generasi sudah
berganti dan selera musiknya berubah. Koes Plus vakum sementara dan Nomo masuk
lagi menggantikan Murry, sekitar akhir 1976-an. Koes Bersaudara terbentuk lagi
dan langsung ngetop dengan lagunya “Kembali” yang keluar tahun 1977. Murry
bersama groupnya Murry’s Group juga cukup menggebrak dengan lagunya “Mamiku-papiku”.
Tidak bertahan lama tahun 1978 kembali terbentuk Koes Plus. Lagu barunya, “Pilih
Satu” juga langsung populer. Setelah itu keluar lagu “Cinta”, dengan aransemen
orchestra, yang benar-benar berbeda dengan lagu Koes Plus yang lain. Kemudian
populer juga album melayu mereka yang memuat lagu “Cubit-Cubitan” dan “Panah
Asmara”. Tetapi Koes Plus generasi ini tidak lagi sepopuler sebelumnya. Walaupun,
kalau disimak lagu-lagu yang lahir setelah 1978, masih banyak lagu mereka yang
bagus.
Nasib Koes Plus kini sangat tragis. Seperti kata Yon suatu ketika bahwa Koes
Plus hanya besar namanya tetapi tidak punya apa-apa. Ucapan ini memang pas untuk
mewakili keadaan personel Koes Plus. Mereka tidak mendapatkan uang dari hasil
penjualan kaset yang berisi lagu-lagu lama mereka. Tidak seperti para penyanyi/pemusik
masa kini yang gaya hidupnya “wah” karena dari segi finansial pendapatannya
sebagai penyanyi/pemusik cukup terjamin. Begitu juga bekas group-group tersohor
seperti Beatles, atau Led Zeppelin, mereka hidup dengan enak hanya dari royalti
kaset/VCD/CD/DVD yang mereka hasilkan. Sampai anak-anak dan istri mereka pun
menikmati kelimpahan finansial ini.
Koes Plus hanya dibayar sekali untuk setiap album yang dihasilkan. Tidak ada
royalti, tidak ada tambahan fee untuk setiap CD/kaset yang terjual. Maka tidak
heran ketika tahun 1992 Yon harus jualan batu akik untuk menghidupi rumah
tangganya. Sementara kaset dan CD lagunya masih laris terjual di Indonesia.
Sekarang pun di usianya yang ke-63 Yon dan kawan-kawan (Murry beberapa kali
tidak tampil karena sakit) membawa nama Koes Plus harus manggung untuk
mendapatkan uang. Dengan sisa-sisa suara dan kekuatannya mereka harus menjual
suara dan tenaganya. Yon memang tidak merasakan ini sebagai beban. Dia bersyukur
lagunya masih dicintai orang. Tetapi kita prihatin mendengar kabar seperti ini.
Halaman ini terakhir diubah pada 08:08, 24 Agustus 2007. Seluruh teks tersedia
sesuai dengan Lisensi Dokumentasi Bebas GNU
















pak damang ? abdi ieu opik atos nyobian ngeblog and ini komentar saya, lumayan cukup rieut tapi oke juga dech saya bisa lihat semua foto2 nya bapa dng csnya tapi tentant novel ayat2 kursi eh ayat2 cinta kok ga ada ?
oke gitu aja dari penggemar kpfc
thanks
Opik